Mungkin kita sering bertanya-tanya, mengapa Al-Qur’an sering mengulang kisah para nabi di banyak surah meskipun inti ceritanya sama? Misalnya kisah Nabi Nuh, kisah pengutusan beliau kepada kaumnya setidaknya diceritakan dalam tujuh surah yang berbeda: surah Al-A’raf, Yunus, Hud, Al-Mu’minun, Asy-Syu’ara, Al-‘Ankabut, dan Nuh.
Ternyata, jika diperhatikan lebih jeli, pengulangan kisah beliau di surah-surah ini tidak pernah diceritakan dengan narasi yang sama persis. Setiap cerita selalu membawa detail dan konteks yang berbeda sesuai tujuannya.
Sebagai contoh, dalam empat surah ini kisah Nabi Nuh diceritakan dengan lafaz yang sangat mirip, hingga perbedaannya hanya terletak pada satu huruf. Coba perhatikan:
- Dalam surah Hud, Al-Mu’minun, dan Al-’Ankabut, kisah Nabi Nuh diawali dengan huruf “waw” (و):
وَلَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا نُوۡحًا اِلٰى قَوۡمِهۤ …
“Dan sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya …”
(Q.S. Hud: 25, Al-Mu’minun: 23, Al-’Ankabut: 14)
- Dalam surah Al-A’raf kisah Nabi Nuh tidak diawali dengan huruf “waw” (و):
لَقَدۡ اَرۡسَلۡنَا نُوۡحًا اِلٰى قَوۡمِهۤ …
“Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya …”
(Q.S. Al-A’raf: 59)
Apakah ini hanya sekedar variasi penulisan? Nyatanya tidak. Justru dari perbedaan satu huruf ini kita bisa mengetahui betapa detailnya Al-Qur’an dalam menyampaikan sebuah kisah. Untuk mengungkap keajaiban detail Al-Qur’an ini kita perlu masuk ke laboratorium ilmu Balaghah (sastra Arab).
Dalam ilmu Balaghah, perbedaan satu huruf ini berkaitan erat dengan bab al-fashl wal washl (الفصل والوصل). Al-fashl berarti memisah dan al-washl berarti menyambung, di mana huruf “waw” (و) menjadi alat sambung (harful ‘athf) utamanya.
Ibarat sebuah konstruksi, dua gedung yang saling berkaitan akan lebih baik jika dihubungkan dengan jembatan. Namun, jika gedung-gedung tersebut berdiri sendiri tanpa korelasi, maka penghubung tidak diperlukan. Prinsip yang sama berlaku dalam ilmu Balaghah, kalimat-kalimat yang maknanya saling terikat perlu kita sambung (washl) dengan kata sambung. Sebaliknya, jika tidak ada keterkaitan satu sama lain, kalimat tersebut dipisahkan (fashl).
Lalu bagaimana penerapannya dalam kisah Nabi Nuh? Kalau kita lihat pengelompokan di atas, dapat kita ketahui bahwa kisah Nabi Nuh di surah Hud, Al-Mu’minun, dan Al-‘Ankabut menggunakan uslub al-washl (ولقد أرسلنا), sedangkan kisah dalam surah Al-A’raf menggunakan uslub al-fashl (لقد أرسلنا).
Kisah Nabi Nuh dalam surah Hud dibawakan dengan uslub al-washl karena memiliki keterkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Kalau kita baca dari awal surat, maka akan kita dapati ayat-ayatnya bercerita tentang sikap kaum musyrikin terhadap risalah Nabi Muhammad ﷺ —hingga membuat beliau sedih dan sesak hati— juga tentang keadaan orang-orang zalim yang menghalangi jalan Allah dan balasan atas perbuatan mereka.
Baru setelah itu kisah Nabi Nuh diceritakan sebagai lanjutan yang selaras, sebagai peringatan bagi kaum musyrikin dan penenang hati Nabi, menunjukkan bahwa pendustaan para rasul adalah sunnatullah yang sudah terjadi sejak dahulu.
Atas dasar kesinambungan makna ini, kisah Nabi Nuh di sini dimulai dengan lafaz “ولقد أرسلنا” menggunakan huruf “waw”, menandakan bahwa kisah Nabi Nuh bukan topik baru yang berdiri sendiri, akan tetapi sambungan langsung dari pembicaraan sebelumnya. Tanpa huruf “waw”, kisah ini akan terkesan memulai tema baru, padahal alur maknanya memang dimaksudkan berkesinambungan.
Lalu dalam surah Al-Mu’minun, sebelum kisah Nabi Nuh dibawakan, ayat-ayat sebelumnya berbicara tentang nikmat-nikmat Allah kepada manusia; diturunkannya hujan, ditumbuhkannya pepohonan, ditundukkannya berbagai macam hewan ternak, hingga sampai pada ayat:
وَعَلَيْهَا وَعَلَى ٱلْفُلْكِ تُحْمَلُونَ
“Di atasnya (hewan-hewan ternak) dan di atas kapal-kapal kamu diangkut”.
(Q.S. Al-Mu’minun: 22).
Karena Nabi Nuh adalah ikon pembuat kapal yang legendaris, maka kisahnya di sini juga diawali dengan huruf “waw” untuk menunjukkan adanya keterkaitan. Selain itu juga selaras dengan ayat-ayat sebelumnya yang menjelaskan tentang berbagai jenis nikmat, karena salah satu nikmat yang diterima umat manusia adalah diselamatkannya mereka dari air bah dengan kapal sebagai wasilahnya.
Adapun dalam surah Al-’Ankabut, ayat-ayat di awal surah menceritakan persangkaan sebagian manusia yang mengira mereka akan dibiarkan begitu saja mengaku beriman tanpa menerima ujian dan cobaan. Lalu setelah itu diceritakan kisah Nabi Nuh sebagai bukti sejarah bahwa orang-orang beriman terdahulu pun diuji dengan berbagai macam ujian dan cobaan.
Lantas bagaimana dengan kisah di surah Al-A’raf? Mengapa kisah Nabi Nuh di sini tidak diawali dengan huruf “waw”?
Jawabannya sederhana: karena tidak ada keterkaitan dengan ayat-ayat sebelumnya. Ayat-ayat sebelum kisah Nabi Nuh di surah ini menjelaskan tentang tanda-tanda kekuasaan Allah di alam semesta: tentang langit, bumi, angin, hujan, tanah, dan tumbuh-tumbuhan. Oleh karena itu kisah Nabi Nuh diceritakan secara terpisah -tanpa didahului huruf “waw”- untuk menunjukkan bahwa ia datang dengan tema baru.
Selain itu menurut Imam As-Suyuthi, surah Al-A’raf adalah surah pertama yang menyebutkan kisah para nabi secara berurutan dan kisah Nabi Nuh adalah pembuka parade kisah-kisah itu, maka kisahnya diawali tanpa kata sambung, murni sebagai permulaan.
Fenomena perbedaan satu huruf dalam kisah Nabi Nuh ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an, meskipun mengandung banyak kisah, ia bukan sekadar kitab kumpulan cerita sejarah. Ia adalah kitab suci yang sempurna hingga ke detail paling kecilnya: sangat teliti dalam penempatan huruf, kata, dan kalimatnya. Sebuah bukti nyata bahwa kitab ini adalah Kalamu Rabbil ‘Alamin, perkataan Tuhan semesta alam yang mustahil bagi siapapun untuk menandinginya.
أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ ٱلْقُرْءَانَ ۚ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِندِ غَيْرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخْتِلَـٰفًۭا كَثِيرًۭا
“Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur`an? Sekiranya (Al-Qur`an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya”.
Ditulis oleh: Mahfudz Ridwan
Referensi: At-Tikrar Al-Qur’ani fi Qashashil Anbiya’ (Ulul ‘Azmi minar Rusul), karya Dr. Muhammad Mahmud Basyuni.



