Belakangan ini, dokter Gia Pratama dan dokter Tirta Mandala Hudhi tengah ramai menjadi perbincangan khususnya di media sosial. Banyak potongan video hingga meme yang menunjukkan perbedaan gaya komunikasi keduanya saat menjelaskan atau menyampaikan sesuatu kepada publik. Sebagian orang melihat hal tersebut sebagai perbandingan dua tipe dokter, yang satu berbicara dengan pelan, tenang, soft spoken sementara yang satunya lebih tegas dan blak-blakan. Dari situ muncul berbagai komentar tentang mana gaya komunikasi yang dinilai lebih baik dan tepat.
Menyampaikan kebaikan dan mengingatkan orang lain juga merupakan ajaran islam. Rasulullah bersabda:
الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا : لِمَنْ ؟ قَالَ للهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَلِأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ وَعَامَّتِهِمْ
Artinya:
“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi kitab-Nya, bagi rasul-Nya, bagi pemimpin-pemimpin kaum muslimin, serta bagi umat Islam umumnya.” (HR. Muslim)
Hadits di atas menunjukkan bahwa agama mengajarkan untuk saling menasehati sesama muslim, meski dalam praktiknya cara penyampaiannya bisa berbeda-beda. Ada orang yang lebih mudah menerima nasihat ketika disampaikan dengan lembut dan sopan. Penyampaian yang tenang membuat lawan bicaranya merasa dihargai dan tidak merasa digurui atau disudutkan. Cara ini membuat nasihat lebih nyaman untuk didengar. Namun di sisi lain, ada juga kondisi di mana ketegasan justru sangat diperlukan. Ketika orang-orang terlalu keras kepala atau terus menerus mengabaikan imbauan dan peringatan, maka cara yang lebih tegas terkadang menjadi cara yang lebih tepat agar nasihat benar-benar sampai.
Perbedaan cara ini tidak menjadikan salah satunya lebih benar daripada yang lain. Setiap orang pasti memiliki gaya komunikasi yang berbeda, dan setiap situasi juga membutuhkan pendekatan yang berbeda. Dalam Al Quran, Allah berfirman:
اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ
Artinya:
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS. An Nahl:125)
Ayat ini menunjukkan bahwa dalam menyampaikan kebenaran diperlukan hikmah yaitu kebijaksanaan dalam memilih cara yang tepat. Terkadang seseorang perlu didekati dengan kelembutan, tapi suatu saat mungkin ketegasan juga diperlukan selama masih dalam batas-batas adab. Kita sering melihat hal yang sama dalam kehidupan sehari-hari. Ada guru yang dikenal sangat soft spoken, sabar, dan tidak pernah marah dalam menjelaskan pelajaran, tetapi ada juga guru yang tegas dan to the point supaya siswanya lebih tertib dan disiplin. Dua-duanya tentu memiliki tujuan yang sama, yaitu agar pembelajaran berlangsung kondusif dan pelajaran dapat dipahami dengan baik. Ada sahabat nabi yang dikenal memiliki karakter yang berbeda. Abu Bakar Ash Shiddiq dikenal sangat lembut, penyayang, dan mudah tersentuh. Beliau seringkali menangis ketika membaca Al Qur’an. Pendekatannya dalam berdakwah dan memimpin pun dikenal penuh kelembutan. Berbeda halnya dengan Umar bin Khattab yang dikenal memiliki karakter yang tegas dan kuat. Sikapnya keras membuat banyak orang menjadi segan kepadanya. Namun dari ketegasan Umar lah, seringkali keadilan bisa ditegakkan. Kedua sahabat ini sama-sama menjadi pemimpin umat islam pasca wafatnya Rasulullah. Walaupun karakter keduanya berbeda, tetapi tujuannya tetap sama, amar ma’ruf nahi munkar.
Perbedaan karakter dan pendekatan ini menunjukkan bahwa dalam menyampaikan kebaikan tidak harus selalu dengan satu cara yang sama, bahwa keberhasilan nasihat tidak hanya tergantung isi pesannya tapi juga dari caranya dan kemampuan untuk membaca keadaan. Seperti kata pepatah, ‘ath thoriiqotu ahammu minal maaddah’ yang artinya metode lebih penting daripada materi. Setiap orang punya latar belakang, pengalaman, dan kondisi hati yang berbeda sehingga cara penyampaiannya pun berbeda. Para ulama juga sering menekankan pentingnya memahami situasi sebelum menyampaikan nasihat. Hal ini menunjukkan bahwa yang dimaksud ‘hikmah’ dalam berdakwah bukan hanya tentang berkata baik, tapi juga memahami situasi, mengetahui kapan harus lembut dan kapan harus tegas. ‘Hikmah’ juga merupakan kemampuan untuk menempatkan sesuatu pada tempatnya.
Di kehidupan sehari-hari, kita juga perlu menyesuaikan cara berkomunikasi kita dengan situasi dan keadaan lawan bicara kita. Apalagi belakangan ini orang-orang lebih sensitif dengan nada dan gaya bicara ketimbang isi pesannya. Kadang orang jadi defensif karena cara penyampaiannya terkesan nyerang, ada yang terlalu halus sampai pesannya nggak kena sama sekali. Untuk itu, kita perlu menyadari bahwa tujuan dari nasihat bukan hanya menyampaikan, tapi juga tersampaikan. Banyak yang beranggapan dan merasa sudah berdakwah, merasa sudah menyampaikan, tapi tidak peduli apakah dakwah itu tersampaikan dengan baik atau tidak.
Maka dari itu, dakwah, nasihat, dan menyampaikan kebenaran bukan hanya soal teori, tapi juga soal kepekaan. Semakin kita bisa memahami kondisi orang lain, semakin kita memilih pendekatan yang tepat, maka semakin besar kemungkinan pesan kita akan ‘sampai’ pada orang tersebut. Sehingga, perbedaan cara ini bukan tentang mana paling benar dan mana yang salah, tapi saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.



