Mumpung belum jauh Ramadhan tahun ini, alangkah baiknya kita relfeksi sejenak. Apakah puasa yang sudah dilalui beberapa hari ini sempurna ? apakah puasa kita saat ini sudah baik ? puasa bukan sekadar ibadahtahunan yang hadir setiap Ramadan. Dalam perspektif lain, puasa adalah pendidikan jiwa (tazkiyatun nafs) yang mengantar manusia menjadi pribadi lebih baik. Salah satu ulama besar yang menguraikan tingkatan puasa secara sistematis adalah Imam Al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumuddin.
Imam Al-Ghazali membagi puasa ke dalam tiga tingkatan: shaumul ‘umum (puasa orang awam), shaumul khushus (puasa orang khusus), dan shaumul khushusil khushus (puasa orang super-khusus). Pembagian ini menunjukkan bahwa nilai puasa tidak hanya diukur dari sah atau tidaknya secara fikih, tetapi juga dari kualitas spiritual yang diikutkan didalamnya.
Puasa Sebagai Ibadah Lahir Batin
Dalam Islam, puasa secara syariat didefinisikan sebagai menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga terbenam matahari dengan niat karena Allah. Namun, menurut Imam Al-Ghazali, definisi ini baru menyentuh dimensi lahiriah. Esensi puasa sesungguhnya terletak pada pengendalian diri secara menyeluruh.
Imam Al-Ghazali menekankan bahwa puasa adalah sarana untuk melemahkan hawa nafsu, karena nafsu merupakan pintu masuk berbagai penyakit hati seperti riya, hasad, takabbur, dan cinta dunia yang berlebihan. Oleh karena itu, kualitas puasa seseorang sangat bergantung pada sejauh mana ia mampu mengendalikan tidak hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya. Maka dalam hal ini, Imam Al Ghazali mengklasifikasikan 3 tingkatan orang berpuasa diantaranya :
Pertama Sahumul Umum : Puasanya orang Awam
Tingkatan pertama disebut shaumul ‘umum, yaitu puasanya orang awam pada umumnya. Di level ini, seseorang berpuasa dengan menahan diri dari makan, minum saja, serta segala hal yang secara hukum fikih membatalkan puasa. Puasa ini sah secara syariat dan menggugurkan kewajiban.
Namun, pada tingkatan ini, puasa masih bersifat minimalis. Seseorang bisa saja menahan lapar dan dahaga, tetapi lisannya tetap digunakan untuk menggunjing, matanya masih melihat hal-hal yang diharamkan, atau telinganya menikmati percakapan yang tidak bermanfaat. Secara hukum, puasanya tetap sah, namun secara spiritual nilainya belum maksimal.
Imam Al-Ghazali mengingatkan bahwa puasa di tingkatan ini adalah puasa tingkatan terendah. perumpamaan seperti seseorang yang menjaga pintu rumahnya tetap tertutup, namun membiarkan jendela-jendela lain terbuka lebar. Hasilnya, “pencuri” tetap bisa masuk melalui celah lain. Demikian pula dalam level puasa ini mereka hanya menahan lapar dan dahaga, disisi lain, pahala puasa dapat terkikis oleh perbuatan maksiat yang dilakukan anggota tubuh.
Kedua : Shaumum Khusus : Puasanya Orang Khusus
Tingkatan kedua adalah shaumul khusus, yaitu puasanya orang-orang khusus atau orang-orang saleh. Pada level ini, seseorang tidak hanya menahan diri dari lapar dan dahaga saja, tetapi juga menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa puasa tingkat ini meliputi beberapa penjagaan diantaranya :
- Matanya berpuasa, agar tidak melihat yang harom
- Telinganya berpuasa, agar tidak mendengarkan keburukan dan sesuatu hal yang tidak baik
- Lisannya berpuasa, agar tidak berbicara kotor, ghibah, dusta dan lain senagainya.
- Tangan dan kakinya berpuasa, agar tidak melangkah kepada kemaksiatan.
Disisi lain, dalam konteks kekinian menjaga lisan bisa kita artikan dengan menjaga jari-jemari dari menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan konten negatif di media sosial. Puasa bukan lagi sekadar menahan lapar, tetapi juga menahan diri dari menyakiti orang lain, baik secara langsung maupun disosial media.
Tingkatan orang yang berada di level shaumul khushus menyadari, bahwa esensi puasa adalah membangun ketakwaan, sebagaimana yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Ia mulai merasakan bahwa lapar dan dahaga hanyalah latihan untuk menguatkan kontrol diri secara keseluruhan.
Ketiga : Shaumul Khususil Khusus : Puasanya Orang Istimewa
Tingkatan puasa kegita sekaligus yang tertinggi adalah shaumul khushusil khushus, yaitu puasanya orang-orang istimewa seperti para nabi, shiddiqin, dan muqarrabin. Pada level ini, puasa tidak hanya menjaga anggota tubuh dari dosa, tetapi juga menjaga hati dan pikiran dari dari perbuatan dosa.
Orang orang yang berpuasa dilevel ini mereka memfokuskan hati sepenuhnya kepada Allah. Pikiran mereka dijaga dari kecenderungan berlebihan terhadap urusan duniawi. Bahkan, menurut Imam Al-Ghazali, nilai puasa mereka bisa berkurang apabila hati mereka terlintas memikirkan sesuatu yang menggores imannya.
Standar orang orang berpuasa pada level ini sangat tinggi. Bukan berarti mereka tidak memikirkan urusan dunia sama sekali, tetapi orientasi utama mereka tetap takwa dan takut kepada Allah. Dunia hanya menjadi sarana, bukan tujuan. Hati mereka tidak terikat pada harta, jabatan, atau popularitas. Dan pada puasa di tingkatan ini adalah puncak peribadahan tertinggi seorang hamba kepada penciptanya.
Tabayyun : Sejauh mana tingakatan puasa kita saat ini
TIngkatan orang berpuasa yang disampaikan Imam Al-Ghazali bukan untuk menghakimi, melainkan untuk memotivasi. Setiap Muslim mungkin memulai dari shaumul ‘umum, tingkatan yang paling rendah. Tetapi tidak seharusnya berhenti di sana. Ramadan dan ibadah puasa menjadi momentum untuk naik kelas secara spiritual.
Dalam konteks beribadah, kualitas seseorang mungkin berbeda beda, namun apakah kualitas ibadah kita tidak ingin ditingkatkan menjadi lebih baik ? tentunya tidak. Apalagi dibulan yang mulia ini, bulan pelipatgandaan amal kebaikan. Perlahan kita tingkatkan, terutama kualitas puasa kita, kita perlu memastikan terlebih dahulu bahwa kualitas puasa kita sah secara syariat. Kemudian, kita berusaha menjaga seluruh anggota tubuh dari dosa. selanjutnya, kita melatih hati agar lebih fokus kepada Allah dan tidak terlalu terikat pada dunia.
Semoga artikel ini menyadarkan kita agar bisa meningkatkan kualitas puasa kita, bulan ramadhan adalah momen setahun sekali, belum tentu tahun depan kita akan mendapatinya lagi, maka perbaiki semua amal ibadah kita. Karena semua kita akan berpulang dihadapan Allah. Berkatwalah kepada Allah dimanapun kita berada, karena sebaik baik bekal adalah takwa.



