SEBERAPA SIAP KITA MEWARISI AL-QURAN?

Sudah masyhur diketahui bahwa Ramadan adalah bulannya Al-Quran. Spirit ibadah di bulan Ramadan memang tak akan bisa jauh dari Al-Quran. Ramadan sendiri merupakan bulan di mana Al-Quran diturunkan. Dalam pada itu, diturunkannya pun bertepatan dengan malam yang teramat mulia di sisi Allah.

Oleh karenanya sudah sangat sepatutnya sebagai seorang mukmin menjadikan Al-Quran sebagai nafas dalam setiap laku yang dikerjakan, terlebih-lebih di bulan Ramadan. Oleh karenanya pula tidak mengherankan jika di bulan Ramadan umat muslim sangat dianjurkan untuk memperdalam interaksinya dengan Al-Quran.

Tentu saja interaksi yang dimaksud bisa berbagai macam bentuknya. Mulai dari tadarus, tadabbur, menghafal, mengkaji, dan syukur-syukur bisa sampai pada level pengaplikasiannya dalam kehidupan sehari-hari. Al-Quran mendefinisikan dirinya sendiri salah satunya sebagai petunjuk bagi umat manusia. Maka alangkah meruginya jika momentum Ramadan ini sama sekali tidak menghantarkan pintu hidayah mengetuk pintu hati kita untuk bermesraan dengan-Nya lewat Al-Quran.

Di dalam sabdanya, nabi Muhammad menginformasikan bahwa semua umat muslim tanpa terkecuali merupakan ahli waris yang sah atas dua perkara. Yakni Al-Quran dan Sunnah nabi-Nya. Tidak akan tersesat selamanya apabila kita berpegang teguh atas dua perkara tersebut.

Atas informasi dari nabi Muhammad tersebut rupanya tak semua umat muslim siap menjadi ahli waris Al-Quran. Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat Fatir ayat 32. Terhadap warisan Al-Quran itu kemudian dari hamba-hamba-Nya terklasifikasikan menjadi tiga golongan.

Ketiga-tiganya tentu tetap akan mendapat karunia di sisi Allah. Sebagaimana yang Allah nyatakan pada ujung dari surat Fatir ayat 32 tersebut. Yang demikian itu sudah sangat wajar karena memang Allah ialah Maha Pemurah. Allah punya hak prerogatif untuk melimpahkan rahmat-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.

Namun dalam konteks yang lebih reflektif tak ada salahnya surat Fatir ayat 32 tersebut kita jadikan alat untuk mengukur di manakah posisi kita di antara tiga golongan yang disebutkan. Tiga golongan itu adalah zaalimun li nafsihi, muqtashid, dan saabiqun bil khoirot.

Golongan pertama adalah zaalimun li nafsihi atau mereka yang kemudian tanpa disadari menzalimi diri mereka sendiri. Golongan ini secara kognitif mengetahui bahwa Al-Quran adalah salah satu rukun yang harus diimani. Mereka paham jika Al-Quran adalah kitab yang berisi nasihat-nasihat dari langit. Namun atas pengetahuannya tersebut belum cukup bagi mereka untuk benar-benar menjadikannya sebagai pedoman hidup.

Dalam tataran praktisnya golongan zaalimun li nafsihi ini merasa diri mereka tak mampu atau berat dalam menjalankan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya. Hidup mereka lebih cenderung disetir oleh hasrat duniawi yang sifatnya sangat pragmatis. Maka untung-rugilah yang menjadi neraca hidup mereka. Jika menurut mereka tidak cukup untung untuk mengamalkan isi Al-Quran maka mereka tak segan untuk meninggalkannya.

Golongan kedua adalah muqtashid. Yakni mereka yang memilih jalur lebih aman dari golongan sebelumnya (pertengahan). Golongan ini bisa disebut dengan golongan yang minimalis dalam beragama. Di satu sisi mereka merasa minimal sudah mengerjakan apa yang telah diwajibkan oleh Allah. Di sisi yang lain mereka juga merasa bahwa minimal mereka meninggalkan larangan-larangan yang mengandung konsekuensi dosa besar di sisi Allah.

Atas kondisi yang demikian lalu mereka mencukupkan diri. Secara deskriptif golongan ini akan mencukupkan dirinya pada level “tercapai.” Mereka tak mau repot untuk melampui ketercapaian itu. Boleh jadi golongan inilah yang paling banyak kita temui sehari-hari.

Golongan yang ketiga adalah saabiqun bil khoirot. Golongan ini adalah penganut konsep muhsin sejati. Mereka sempurna dalam menjalankan amalan ibadah wajib dan masih dilengkapi pula dengan yang sunnah. Mereka sangat berhati-hati dalam perkara yang makruh dan anti terhadap perkara yang haram. Golongan inilah yang paling siap menjadi ahli waris nabi Muhammad. Golongan ini pula yang nabi sebut tak akan tersesat selamanya.

Al-Quran benar-benar dijadikan way of life bagi golongan ini. Ibadah serta amalan yang mereka kerjakan mampu melampui yang semestinya. Mereka inilah yang layak untuk mendapatkan nilai excellent. Tentu saja kesemuanya itu tetap atas izin Allah yang Maha Segalanya (bi idznillah).

Atas pembacaan serta pengkajian surat Fatir ayat 32 di atas sudikah kiranya kita sejenak merenung untuk bermawas diri. Di manakah posisi kita dalam mengimani Al-Quran dari tiga golongan yang disebutkan? Barangkali memang diri kita jauh dari kata ideal. Namun akan lebih bijak jika kejujuran itu juga dibarengi dengan mengupayakan yang terbaik dalam hidup kita.

Maka pada momentum bulan Ramadan yang juga disebut bulan tarbiyah ini kita optimalkan segala upaya dan usaha yang terbaik dalam menjemput ridho-Nya. Dengan begitu predikat takwa bisa kita raih. Dan dengan ketakwaan itu kita jadi semakin siap untuk mewarisi Al-Quran.

More Posts

Melihat Pesantren Lebih Utuh

Pesantren seringkali menjadi perbincangan publik. Sayangnya, belakangan ini yang terdengar bukan dari hal positifnya seperti prestasi santri atau kisah inspiratif tentang pendidikan di dalamnya, tapi

Kirim Pesan