Pernah nggak sih kamu merasa sudah kerja keras bagai kuda, tapi saldo di rekening tetap saja hanya cukup buat bertahan hidup sampai tanggal 20? Kalau iya, tenang, kamu nggak sendirian. Saat ini, jutaan anak muda di seluruh dunia termasuk di Indonesia sedang menatap masa depan dengan fikiran penuh. Bukan karena mereka malas, tapi karena dunianya memang lagi nggak baik-baik saja.
Resep sukses dulunya sederhana: sekolah yang rajin, kuliah, dapat kerja kantoran, cicil rumah, menikah, dan dengan tenang pensiun. Namun, sekarang? Resep itu tampaknya sudah tidak berlaku lagi. Sementara kenaikan gaji hanya meningkat secara bertahap, harga rumah terus melonjak. Ini disebut ketidakpastian ekonomi.
Bedah Fenomena anak muda zaman sekarang
Pernah dengar istilah Doomspending? Ini adalah perilaku di mana anak muda lebih memilih menghabiskan uang mereka untuk kesenangan jangka pendek (seperti nonton konser, nongkrong di coffe shop, atau self-reward berlebihan) karena mereka merasa impian besar seperti membeli rumah sudah mustahil tercapai.
Sederhananya seperti ini : “Buat apa aku hemat mati-matian buat nabung DP rumah yang harganya 1 Miliar, sementara gajiku cuma 2 juta? Mending uangnya aku pakai buat nonton konser biar nggak stres.” Ketidakpastian ekonomi membuat masa depan terlihat sangat jauh dan buram, sehingga kepuasan instan menjadi pelarian paling masuk akal.
Tekanan Sandwich Generation
Masalah ekonomi anak muda sekarang bukan cuma soal gaya hidup, tapi soal beban tanggung jawab. Banyak dari kita yang masuk ke dalam kategori Sandwich Generation. Kita harus membiayai diri sendiri, tapi di saat yang sama harus menopang orang tua yang tidak punya dana pensiun, dan mungkin membantu biaya sekolah adik.
Di tengah harga beras yang naik dan biaya transportasi yang mencekik, gaji seringkali cuma “mampir” sebentar di rekening sebelum disebar ke berbagai cicilan dan kebutuhan keluarga. Tekanan ini membuat anak muda merasa tidak punya ruang untuk bernafas, apalagi untuk berinvestasi bagi masa depan mereka sendiri.
Dunia kerja yang penuh dengan ketidakpastian
Dulu, jadi karyawan tetap di sebuah perusahaan besar itu sudah aman sampai tua. Sekarang? Istilah “layoff” atau PHK massal terdengar hampir setiap bulan, terutama di industri teknologi dan kreatif. Belum lagi tantangan dari Artificial Intelligence (AI) yang mulai mengambil alih beberapa pekerjaan manusia.
Anak muda sekarang dipaksa untuk punya “side hustle” atau kerja sampingan hanya untuk merasa aman. Kita hidup di era Gig Economy, di mana status pekerjaan seringkali hanya kontrak atau freelance tanpa jaminan kesehatan dan dana pensiun. Ketakutan akan kehilangan pekerjaan besok pagi adalah hantu yang selalu membayangi setiap langkah.
Lelah Mental Anak Muda
Seringkali generasi yang lebih tua melabeli anak muda sekarang sebagai “generasi stroberi”—tampak cantik tapi lembek. Padahal, tantangan mental yang dihadapi sangat berbeda. Ketidakpastian ekonomi secara langsung memicu anxiety (kecemasan) dan depresi.
Ketika kamu tidak tahu apakah bulan depan bisa bayar kosan, atau apakah kamu akan tetap punya pekerjaan, otakmu akan selalu dalam mode “bertahan hidup”. Ini melelahkan secara emosional. Quarter-life crisis yang dialami anak muda zaman sekarang bukan lagi sekadar “mau jadi apa aku nanti?”, tapi lebih ke “gimana cara aku bertahan hidup sampai umur 30?”.
Tekanan Media Sosial
Masalah jadi makin rumit karena adanya media sosial. Di tengah kesulitan ekonomi, anak muda disuguhi konten orang-orang yang tampak sukses di usia 20-an. Hal ini menciptakan standard hidup yang tidak realistis. Kita merasa gagal kalau belum punya mobil atau liburan ke luar negeri, padahal realitanya, banyak dari konten tersebut hanyalah polesan. Gap antara kenyataan dompet dan ekspektasi sosial ini menciptakan luka batin yang dalam bagi anak muda
Bagaimana Cara Kita Bertahan ?
Anak muda mempunyai kelebihan yang luar biasa di era sekarang, mereka lebih adaptif terhadap lingkngan sekitar. Ada beberapa cara untuk kita terhadap tantangan ekonomi saat ini :
- Anak muda pintar mengelola keuangan “Melek literasi”
Jika gajimu paspasan, menabunglah saja terlebih dahulu, jangan dulu untuk membeli hal hal yang tidak penting, atau mencoba investasi. Bukan aku melarang kamu investasi, tapi lebih baik simpalah dulu uangmu ditabungan.
- Membangun Ekonomi kolaboratif
Jangan menanggung beban ekonomi sendirian. Mulailah berbagi biaya hidup dengan sistem co-living atau berbagi akses alat kerja. Membangun jejaring (networking) bukan lagi soal gaya-gayaan, tapi soal akses ke peluang kerja baru saat pekerjaan utama sedang goyah.
- Pahamilah Makna sukses sebenarnya
Berhentilah mengejar standar sukses orang tua atau apa yang terlihat di Instagram. Sukses tidak harus selalu punya rumah mewah di usia 25. Jika kamu bisa hidup tanpa utang dan mentalmu tetap sehat di tengah krisis, itu sudah merupakan kemenangan besar di era sekarang.
- Asah skil mu, tubuhkan !
Persaingan kerja saat ini cukup ketat, kalau kamu gapunya orang dalem, minimal punya skil yang menonjol dari latar belakangmu saat ini. Contoh aku kuliah di ekonomi, aku punya skil di komunikasi, relationship, editing foto dan vidio. Itulah yang akan menjadi nilai tambah pada dirimu.
Ketidakpastian ekonomi memang nyata dan menakutkan. Ia bukan sekadar angka inflasi di berita, tapi rasa sesak di dada saat melihat harga-harga naik. Namun, penting bagi kita untuk sadar bahwa ini adalah masalah sistemik, bukan kesalahan pribadi kamu seutuhnya.
Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Fokuslah pada apa yang bisa kamu kendalikan: skill baru, kesehatan mental, dan hubungan baik dengan orang sekitar. Masa depan mungkin terlihat gelap, tapi kita selalu bisa membawa senter kecil untuk menerangi jalan setapak di depan kita, satu langkah demi satu langkah.



