Perempuan Bekerja : Antara Rutinitas & Kebutuhan

Beberapa hari terakhir, ada kabar-kabar yang cukup menyita perhatian. Tentang puluhan anak di daycare yang bermasalah. Bayi-bayi tak bersalah yang diikat tubuhnya supaya tidak nakal dan hiperaktif. Anak-anak yang ditidurkan di lantai tanpa sehelai benang pun. Sulit bagi siapapun, khususnya perempuan, untuk tidak merasa terpukul mendengar satu demi satu kesaksian korban dan bukti-bukti kejahatan daycare tersebut. Tak berselang lama, muncul kabar tentang kecelakaan kereta yang merenggut belasan nyawa perempuan pekerja. Malam hari, di saat para pekerja dalam perjalanan pulang di KRL setelah seharian berjibaku dengan pekerjaan yang melelahkan. Gerbong perempuan, yang menjadi saksi perjuangan perempuan pekerja selama ini. Ada ibu-ibu hamil, ada ibu-ibu menyusui yang menenteng coolerbag berisi ASI untuk anaknya di rumah. Ada gadis-gadis yang memperjuangkan mimpinya. Kabar ini tentu menjadi duka yang amat mendalam bagi banyak orang, tidak hanya keluarga korban, tetapi juga perempuan-perempuan pekerja.

            Setiap pagi, jalanan penuh. Transportasi umum padat, bahkan sesak. Perempuan-perempuan itu berangkat kerja seperti biasa, berdiri di dalam kendaraan, berjalan cepat mengejar waktu. Pemandangan ini berulang setiap hari dan menjadi sesuatu yang biasa terlihat. Sore hari, suasananya tidak jauh berbeda. Perjalanan penuh macet, kelelahan, dan rutinitas yang sama. Banyak dari mereka pulang ke rumah dan melanjutkan peran lain yang menanti. Semua berjalan, berulang, menjelma rutinitas sehari-hari. Semua ini akhirnya terasa normal. Kita melihatnya setiap hari, menjalaninya, atau berada di antaranya. Sampai akhirnya, dari dua kejadian besar di atas, kita betul-betul menyadari bahwa ada banyak hal yang sebenarnya tidak sederhana.

            Perempuan-perempuan itu, ada yang harus meninggalkan anaknya sejak pagi. Menitipkan pada orang lain, membayar sejumlah uang dan dengan harapan anaknya dijaga dengan baik, bahwa semua akan baik-baik saja sampai ia kembali. Ada juga perempuan-perempuan yang rela keluar dari pekerjaannya karena harus menjalani semuanya sendiri tanpa banyak pilihan. Hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan: perempuan bekerja, apakah hanya sebuah rutinitas yang dianggap wajar pada masa kini atau benar-benar sebuah kebutuhan?

            Apabila ditarik ke dalam perspektif islam, bekerja bagi perempuan bukanlah suatu kewajiban. Ia berada pada status mubah. Dalam sebuah kaidah ushul fiqh disebutkan

الأصل في الأشياء الإباحة

yang artinya: “Hukum dasar segala sesuatu (perkara/benda) adalah boleh/mubah”.

Sehingga dalam islam, bekerja bagi perempuan bukanlah suatu tuntutan yang harus dipenuhi. Namun kebolehan ini bukan berarti tanpa batas. Ada rambu-rambu yang harus diperhatikan supaya tidak menimbulkan mudharat bagi dirinya sendiri, keluarga, maupun lingkungannya.

            Rambu-rambu tersebut di antaranya, pekerjaan yang dijalani harus halal baik dari segi apa yang dikerjakannya maupun cara dan dampak pekerjaan tersebut. Perempuan-perempuan yang bekerja tetap harus selalu menjaga kehormatan diri baik dalam bentuk cara berpakaian, sikap, maupun interaksi supaya dapat terhindar dari hal-hal yang berpotensi mengundang fitnah seperti khalwat dan ikhtilat.

            Untuk perempuan-perempuan yang sudah menikah dan tetap bekerja, ada hal-hal yang tidak bisa diabaikan, yakni izin dari suami dan kesepakatan dalam rumah tangga. Suami-istri perlu saling mengkomunikasikan terkait tanggung jawab yang perlu disepakati bersama, sehingga tidak menyebabkan hak dan kewajiban dalam keluarga terabaikan. Di sisi lain, banyak perempuan yang menjalani peran ganda, sebagai istri yang bekerja sekaligus sebagai ibu yang harus mengelola rumah tangga. Seringkali muncul dilema, saat pekerjaan menuntut banyak waktu, tenaga, dan perhatian, sementara di rumah ada anak-anak yang butuh kasih sayang dan kehadiran seorang ibu.

            Kasus daycare beberapa waktu lalu tentu sangat menyakitkan bagi banyak orang, khususnya bagi ibu yang bekerja. Ada satu celah dalam sesuatu yang selama ini kita anggap sebagai sebuah solusi, bahwa ternyata tidak semua tempat penitipan anak mampu memberikan rasa aman yang sama seperti ibu kandungnya, atau minimal rasa aman yang sebenarnya. Tapi tidak bisa dipungkiri, tidak semua perempuan mempunyai pilihan untuk tetap di rumah dan mengasuh anaknya sendiri. Tuntutan ekonomi, kebutuhan hidup yang semakin tinggi, biaya pendidikan, hingga kondisi keluarga membuat perempuan terpaksa tetap bekerja. Begitulah masalahnya, terkadang bekerja bagi perempuan bukanlah pilihan, tapi sebuah kebutuhan sehingga tanpa disadari berubah menjadi rutinitas yang menuntut pengorbanan lebih, misalnya harus mengorbankan waktu atau perhatian dengan anak.

            Maka persoalan perempuan bekerja ini tidak bisa dinilai secara hitam putih. Setiap perempuan memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ada yang bekerja untuk mengejar kemandirian finansial, ada yang membantu ekonomi keluarga, ada yang ingin mengembangkan potensi diri. Semua alasan itu baik dan valid, asalkan tetap disertai pertimbangan yang matang. Persoalannya kemudian kembali pada diri setiap individu, apakah pekerjaan yang dijalani benar-benar menjadi kebutuhan atau sekedar ego? Apakah dengan mempertahankan pekerjaan ada kewajiban yang justru terabaikan? Apakah semua itu dijalani dengan sepenuh hati atau sekedar menjalani rutinitas?

            Nyatanya, persoalan perempuan yang bekerja ini tidak pernah sesederhana itu. Bukan hanya perihal jenjang karir atau jumlah penghasilan, tapi juga tentang nilai diri, tanggung jawab, dan pilihan hidup. Perempuan yang pada akhirnya memutuskan untuk tidak bekerja bukan berarti kehilangan nilai dirinya apabila ia memutuskan hal itu dengan kesadaran penuh. Oleh sebab itu, masalahnya bukan hanya tentang perempuan yang bekerja atau tidak bekerja, tapi bagaimana seorang perempuan bisa memutuskan secara sadar, menjalaninya dengan penuh tanggung jawab dan seimbang antara kebutuhan dan peran (bukan sekedar rutinitas), sehingga meminimalisir adanya kewajiban yang terabaikan. Poin pentingnya tidak hanya tentang memilih dan memutuskan, tapi juga memahami dan siap menjalani konsekuensi dari setiap pilihan.

More Posts

Melihat Pesantren Lebih Utuh

Pesantren seringkali menjadi perbincangan publik. Sayangnya, belakangan ini yang terdengar bukan dari hal positifnya seperti prestasi santri atau kisah inspiratif tentang pendidikan di dalamnya, tapi

Kirim Pesan