Melihat Pesantren Lebih Utuh

Pesantren seringkali menjadi perbincangan publik. Sayangnya, belakangan ini yang terdengar bukan dari hal positifnya seperti prestasi santri atau kisah inspiratif tentang pendidikan di dalamnya, tapi justru berbagai kasus yang membuat banyak orang tua merasa takut, khawatir, dan skeptis terhadap citra pesantren. Kabar-kabar itu beragam, mulai dari kekerasan, bullying, hingga kasus pelecehan yang melibatkan oknum di pesantren. Bahkan tidak sedikit alumni yang mulai berbicara tentang pengalaman mereka selama mondok. Akhirnya, stigma pesantren sebagai tempat pendidikan islam yang tepat, mulai mengalami pergeseran seiring dengan kekhawatiran yang muncul di tengah masyarakat. Banyak orang tua merasa ragu dan takut untuk memasukkan anaknya ke pesantren.

Apa yang menjadi kekhawatiran masyarakat khususnya orang tua sangatlah wajar. Tidak ada orang tua yang ingin menitipkan anaknya di tempat yang membuat mereka merasa tidak tenang. Semua orang tua pasti mengharapkan yang terbaik bagi anak-anaknya. Citra pesantren yang selama ini berkembang di masyarakatpun sangat positif. Pesantren dikenal sebagai tempat menimba ilmu agama dengan lebih fokus. Tempat anak belajar akhlak, adab, dan berbagai bidang ilmu agama lain dengan sanad keilmuan yang mumpuni. Ketika pada akhirnya muncul kasus-kasus yang berlawanan dengan nilai-nilai agama, maka kekhawatiran dan kekecewaan masyarakat menjadi hal yang sangat wajar.

Di tengah ramainya kasus yang bermunculan, kita harus menyadari, bahwa pesantren tidak bisa hanya dilihat dari potongan-potongan kasus yang viral di media sosial. Dinamika pesantren jauh lebih kompleks daripada itu semua. Di Indonesia sendiri, ada ribuan pesantren yang tersebar di berbagai daerah. Masing-masing pesantren memiliki core value, sistem, kurikulum, budaya, dan kualitas yang berbeda-beda. Ada pesantren yang memang benar-benar memiliki lingkungan dan sistem pendidikan yang baik, kurikulum yang memadai, lingkungan yang suportif, serta guru dan pengasuh yang benar-benar amanah. Faktanya, banyak ulama-ulama dan orang-orang hebat Indonesia yang lahir dari pendidikan pesantren.

Bagaimana tidak? Di pesantren, santri belajar hidup mandiri, belajar menghargai ilmu, belajar menghormati guru, belajar disiplin, dan belajar hidup sederhana selama di pondok. Bahkan tidak sedikit orang tua yang bahagia melihat perubahan anaknya menjadi lebih baik dan lebih santun setelah mondok. Maka dari itu, pada saat bermunculan kasus-kasus yang melibatkan oknum pesantren, kita tidak boleh menutup mata terhadap kasus yang ada, tapi juga bukan berarti seluruh pesantren sama seperti itu.

Di pesantren, seringkali ada budaya yang sudah terlalu lama dianggap wajar dan akhirnya sulit dievaluasi dengan dalih ‘biasanya juga seperti itu, tahun-tahun sebelumnya juga seperti itu’. Kalimat-kalimat seperti ‘namanya juga pondok’ sering digunakan untuk membenarkan banyak hal, seperti senioritas, bentakan berlebihan, hukuman yang tidak mendidik, sehingga menciptakan lingkungan yang membuat santri tidak nyaman dan takut menyampaikan aspirasinya.

Sayang sekali bukan? Pesantren sebagai lembaga pendidikan, tempat anak-anak mempelajari agama dan akhlak, yang seharusnya menjadi ‘rumah kedua’ bagi mereka, yang seharusnya memberikan kenyamanan dan rasa aman, harus ternodai oleh ulah beberapa oknum yang tidak bertanggungjawab. Alih-alih menggeneralisasi semua pesantren, kita seharusnya fokus mengawal oknum-oknum pesantren yang terlibat kasus sampai korban mendapatkan keadilannya. Zaman sudah berubah, teknologi semakin canggih, informasi bertebaran di mana-mana, maka pesantren juga harus berbenah. Mendampingi santri-santri zaman sekarang pasti akan berbeda dengan 10-20 tahun lalu, maka pendekatan yang digunakan juga harus disesuaikan.

Kita boleh mengkritik pesantren yang bermasalah, tapi kita tidak boleh menggeneralisir dan menganggap semua pesantren seperti itu semua. Sebagaimana sekolah, kampus, dan lembaga lain, pesantren juga dijalankan oleh manusia. Ada manusia yang baik, ada yang kurang dan perlu perbaikan, ada yang memang salah dan perlu ditindak tegas. Maka teruntuk para orang tua yang berniat memasukkan anaknya ke pondok, tidak perlu takut berlebihan terhadap pesantren, karena yang kita butuhkan bukan rasa takut berlebihan, tapi sikap waspada dan bijak dalam memilih dan melihat.

Orang tua harus lebih teliti lagi pada saat memilih tempat pendidikan yang tepat untuk anaknya. Jangan hanya melihat pada besarnya nama instansi atau popularitas pengasuhnya, tapi perhatikan juga bagaimana lingkungannya, sistem pengawasannya, bagaimana goals dan core valuenya, bagaimana cara guru/pengasuhnya berinteraksi dengan santri, dan bagaimana pesantren menyikapi kritik dan evaluasi.

Pesantren dengan lingkungan yang sehat tidak akan anti kritik dan akan selalu terbuka dengan masukan, karena tujuan pendidikan bukan hanya membuat seorang murid menjadi patuh tanpa tapi, namun bagaimana anak-anak dapat tumbuh di lingkungan yang baik secara keilmuan maupun mental. Bagaimanapun, pesantren tetap menjadi salah satu bentuk tempat pendidikan yang memiliki peran besar dalam melahirkan generasi muslim. Sampai hari ini, tidak sedikit orang tua yang masih percaya dan menaruh harapan besar kepada pesantren untuk mendidik anak-anak mereka menjadi pribadi yang baik, lebih dekat dengan agama, dan berakhlak baik.

Di tengah situasi zaman yang semakin kompleks ini, lingkungan pendidikan yang mampu menjaga nilai agama sangat dibutuhkan. Dalam hal ini, pesantren tentu menjadi opsi menarik karena dikenal mampu menjaga tradisi keilmuan islam, kedisiplinan, dan pembentukan karakter santri. Akhirnya, orang tua tidak hanya menitipkan anaknya untuk menuntut ilmu agama dengan baik, tapi juga menitipkan rasa percaya yang sangat besar kepada sebuah lembaga pendidikan. Sehingga, peantren perlu berbenah, memperbaiki sistem yang kurang, mengevaluasi budaya yang tidak sehat, serta bersama-sama membangun lingkungan yang nyaman dan aman.

Pesantren tidak boleh anti kritik, karena kritik yang dilontarkan masyarakat bukanlah sebuah kebencian terhadap pesantren, tapi sebagai bentuk peduli agar pesantren tetap menjadi tempat pendidikan yang layak dipercaya. Sebagaimana yang sudah dibahas sebelumnya, masyarakat harus bersikap adil dalam menanggapi berbagai persoalan ini. Jangan sanpai kasus-kasus yang ada membuat seluruh pesantren kehilangan kepercayaannya di mata masyarakat. Karena pada dasarnya, masih banyak pesantren yang benar-benar mendidik dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Maka tak perlulah kita takut dan cemas berlebihan atau sebaliknya, menutup mata dan membela buta terhadap kesalahan oknum pesantren. Kita harus sadar bahwa pendidikan yang baik harus benar-benar dibangun dengan ilmu, amanah, evaluasi, dan lingkungan yang sehat.

More Posts

Kirim Pesan