Mubaligh Hijrah UAD 2026: Menghidupkan Ramadhan melalui Dakwah dan Pembinaan di Masjid Al-Falah Kandri

Gunungkidul — Momentum bulan suci Ramadhan dimanfaatkan secara optimal oleh mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) melalui program Mubaligh Hijrah 2026. Program ini menjadi wujud nyata pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Lembaga Pengembangan Studi Islam (LPSI), dengan tujuan menghadirkan peran aktif mahasiswa dalam membina dan memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat. Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya berperan sebagai peserta kegiatan, tetapi juga sebagai penggerak dakwah yang terjun langsung ke tengah masyarakat.

Kehadiran mahasiswa diharapkan mampu memberikan kontribusi positif, khususnya dalam menghidupkan suasana religius selama bulan Ramadhan. Dengan memanfaatkan momentum bulan penuh berkah ini, berbagai kegiatan keislaman dirancang untuk meningkatkan pemahaman, pengamalan, serta kecintaan masyarakat terhadap ajaran Islam. Program Mubaligh Hijrah juga menjadi sarana pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh di bangku perkuliahan dalam konteks nyata, sekaligus melatih kepekaan sosial, kemampuan komunikasi, dan jiwa kepemimpinan dalam berdakwah di lingkungan masyarakat..

Salah satu unit yang terjun langsung adalah Unit I.B.5 yang terdiri dari dua mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Arab, Salsabila Rizkika Ramadhani Khairunnisa dan Sekar Amirinda Barmuzayyah, serta satu mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam, Muhammad Ammar Khadafi. Di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapangan, Muh. Saeful Effendi, M.Pd.B.I., mereka melaksanakan pengabdian selama satu bulan penuh di Masjid Al-Falah, Desa Kandri, Kelurahan Pucung, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul.

Selama masa pengabdian, tim Mubaligh Hijrah tidak hanya ikut serta dalam kegiatan ibadah rutin seperti shalat berjamaah dan tadarus Al-Qur’an, tetapi juga berusaha memberikan kontribusi yang lebih luas melalui berbagai program unggulan yang disusun secara terarah dan berkelanjutan. Program-program ini tidak dibuat secara asal, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat setempat, sehingga kegiatannya terasa relevan dan benar-benar bermanfaat, bukan sekadar formalitas.

Dalam pelaksanaannya, tim terlebih dahulu membangun kedekatan dengan masyarakat untuk memahami kebiasaan, kebutuhan, dan tingkat pemahaman keagamaan warga. Dari situ, kegiatan-kegiatan yang dirancang menjadi lebih tepat sasaran, mulai dari pembinaan ibadah hingga penguatan nilai-nilai akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Dengan suasana yang santai, hangat, dan penuh kebersamaan, masyarakat pun lebih mudah terlibat dan merasa nyaman mengikuti setiap kegiatan. Perlahan namun pasti, program-program ini mampu membantu meningkatkan pemahaman sekaligus praktik keislaman masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu program utama yang dilaksanakan adalah Kajian Hadits Arba’in An-Nawawi. Kajian ini diselenggarakan setiap ba’da subuh dengan metode “satu hari satu hadits”. Setiap pertemuan, pemateri membacakan hadits, menjelaskan makna, serta menguraikan hikmah yang terkandung di dalamnya dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami. Pendekatan ini membuat kajian dapat diikuti oleh berbagai kalangan, dari remaja hingga orang tua. Selain itu, materi yang disampaikan juga dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, sehingga nilai-nilai hadits dapat langsung diamalkan dalam kehidupan nyata.

Program berikutnya adalah Tadarus Surah Al-Kahfi, yang dilaksanakan sebagai upaya menghidupkan amalan sunnah yang dianjurkan, khususnya pada hari Jumat. Kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai rutinitas membaca Al-Qur’an, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya menghidupkan sunnah dalam kehidupan sehari-hari. Pelaksanaannya dilakukan secara berjamaah di masjid, sehingga menghadirkan suasana khusyuk sekaligus mempererat ikatan spiritual antarwarga.

Lebih dari sekadar membaca, kegiatan tadarus ini juga menjadi sarana refleksi dan penghayatan terhadap kandungan makna Surah Al-Kahfi yang sarat dengan pelajaran tentang keimanan, keteguhan, serta ujian kehidupan. Dalam beberapa kesempatan, tim turut memberikan penjelasan singkat terkait pesan-pesan yang terkandung dalam ayat-ayat yang dibaca, sehingga masyarakat tidak hanya melantunkan bacaan, tetapi juga memahami nilai-nilai yang dapat diamalkan. Dengan pendekatan yang sederhana namun bermakna ini, kegiatan tadarus menjadi media syiar Islam yang efektif dalam menumbuhkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, memperkuat kebiasaan ibadah sunnah, serta membangun semangat kebersamaan dan kekhusyukan dalam beribadah di tengah masyarakat.

Selain itu, tim juga menyelenggarakan program pendampingan tadarus bagi kalangan remaja dan dewasa sebagai upaya nyata dalam meningkatkan kualitas bacaan Al-Qur’an di tengah masyarakat. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi forum membaca bersama, tetapi dirancang sebagai proses pembelajaran yang terarah dan berkesinambungan. Para peserta mendapatkan bimbingan langsung dari pendamping terkait dasar-dasar ilmu tajwid, mulai dari pengenalan makharijul huruf (tempat keluarnya huruf), sifat-sifat huruf, hingga kaidah-kaidah penting dalam membaca Al-Qur’an seperti hukum bacaan, serta aturan berhenti (waqaf) dan memulai kembali bacaan (ibtida’) yang benar.

Dalam pelaksanaannya, pendamping juga memberikan perhatian khusus terhadap kesalahan-kesalahan yang kerap terjadi saat membaca Al-Qur’an. Peserta dikenalkan pada berbagai jenis kesalahan, baik yang bersifat ringan dan tidak mengubah makna, maupun kesalahan yang berpotensi mengubah arti ayat. Dengan pendekatan ini, peserta menjadi lebih peka dan berhati-hati dalam melafalkan setiap huruf dan ayat. Proses pembelajaran dilakukan secara bertahap, disertai praktik langsung serta evaluasi ringan, sehingga peserta dapat memperbaiki bacaannya secara perlahan namun konsisten. Melalui suasana belajar yang interaktif dan penuh kekeluargaan, kegiatan ini terbukti efektif dalam meningkatkan kefasihan, ketepatan, serta kepercayaan diri peserta dalam membaca Al-Qur’an sesuai dengan tuntunan yang benar.

Rangkaian kegiatan yang dilaksanakan selama program berlangsung menunjukkan bahwa kehadiran mahasiswa dalam program Mubaligh Hijrah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Tidak hanya meningkatkan pemahaman keagamaan, kegiatan ini juga berhasil menumbuhkan kebiasaan beribadah, mempererat ukhuwah, serta menghidupkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya belajar mengamalkan ilmu yang dimiliki, tetapi juga berkontribusi nyata dalam membangun masyarakat yang religius dan berakhlak. Diharapkan, kegiatan serupa dapat terus berlanjut dan berkembang, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat di berbagai daerah.

More Posts

SEBERAPA SIAP KITA MEWARISI AL-QURAN?

Sudah masyhur diketahui bahwa Ramadan adalah bulannya Al-Quran. Spirit ibadah di bulan Ramadan memang tak akan bisa jauh dari Al-Quran. Ramadan sendiri merupakan bulan di

Kirim Pesan