KETIKA HIDUP DI ZAMAN FITNAH

Sepekan sebelum HUT RI kemarin, polisi menangkap sembilan orang yang diduga menyebarkan konten provokatif tentang potensi kerusuhan nasional. Dari penyelidikan, ada dugaan aliran dana hingga Rp220 juta yang sengaja digelontorkan untuk membiayai narasi kegaduhan itu. Di waktu yang hampir bersamaan, beredar pula video yang mengeklaim Presiden Prabowo marah besar karena gedung DPR dibakar, padahal itu cuma rekayasa. Ada juga video palsu yang menampilkan Menteri Keuangan Purbaya seolah meminta koruptor dihukum mati dengan cara tertentu, konten yang sebetulnya tidak pernah ia ucapkan seperti itu. Seorang peneliti dari Monash University bahkan mencatat, dalam rentang waktu kurang dari seminggu di akhir Juli lalu, ada 197 ribu unggahan soal isu demonstrasi beredar, dan sebagian besar ternyata bukan kejadian baru, melainkan video lama yang didaur ulang seolah-olah baru terjadi hari ini.

Kalau direnungkan, ini bukan sekadar persoalan teknis soal hoaks dan cek fakta. Ini persoalan yang jauh lebih dalam tentang bagaimana kita, sebagai manusia yang hidup di zaman layar, terus-menerus diperhadapkan dengan sesuatu yang dalam bahasa agama disebut fitnah, dalam artian yang sesungguhnya: ujian, kekacauan, kabut yang mengaburkan mana yang benar dan mana yang rekayasa. Fitnah dalam pengertian ini bukan cuma soal gosip antarindividu seperti yang sering dipahami orang awam, tapi mencakup segala bentuk kekacauan informasi yang membuat masyarakat sulit membedakan fakta dari manipulasi, yang membuat hati mudah terprovokasi sebelum sempat berpikir jernih.

Rasulullah SAW sendiri, jauh sebelum ada internet dan algoritma media sosial, pernah mengingatkan tentang datangnya masa yang dipenuhi fitnah, sebuah masa di mana orang yang duduk diam lebih selamat dibanding yang berdiri, dan yang berdiri lebih selamat dibanding yang berjalan menuju kekacauan itu. Ini bukan berarti umat Islam diajak pasif dan tidak peduli terhadap keadaan sosial. Justru sebaliknya, peringatan ini adalah ajakan untuk berhati-hati agar tidak ikut menyulut sesuatu yang bisa memperbesar kekacauan, apalagi kalau kita sendiri belum benar-benar tahu duduk perkaranya.

Persoalannya, di zaman sekarang, godaan untuk ikut menyebarkan sesuatu yang belum jelas kebenarannya jauh lebih besar dibanding masa Rasulullah hidup. Cukup satu jentikan jari untuk membagikan ulang video yang belum tentu benar, cukup rasa geram sesaat untuk ikut menyulut opini yang keliru, dan dalam hitungan jam, informasi itu sudah menyebar ke ratusan ribu layar orang lain, membentuk persepsi yang bahkan sulit diluruskan meski sudah dibantah berkali-kali oleh pihak berwenang. Konten hoaks soal bansos yang mengatasnamakan pejabat tertentu, video lama yang dipoles seolah kejadian baru, hingga narasi yang sengaja dibuat terkoordinasi untuk menggiring opini publik ke arah tertentu, semuanya menunjukkan bahwa fitnah zaman ini punya wajah baru: rapi, terstruktur, dan seringkali dibiayai oleh pihak yang punya kepentingan tertentu di baliknya.

Al-Qur’an sebetulnya sudah memberikan panduan yang sangat relevan untuk zaman seperti ini, dalam surah Al-Hujurat ayat 6, yang intinya mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu memeriksa dan memastikan kebenaran suatu berita sebelum bertindak atau menyebarkannya, apalagi kalau berita itu datang dari sumber yang tidak jelas kredibilitasnya. Prinsip tabayyun ini sebetulnya jauh lebih maju dibanding sekadar imbauan “cek fakta” yang sering kita dengar sekarang, karena tabayyun bukan cuma soal verifikasi teknis, tapi juga soal kedewasaan hati untuk menahan diri, tidak buru-buru bereaksi, dan tidak mudah terprovokasi hanya karena sesuatu terlihat viral.

Maka menyikapi zaman yang penuh fitnah ini, ada beberapa hal yang barangkali perlu benar-benar dihidupkan kembali dalam keseharian kita, bukan cuma jadi slogan kajian yang berhenti di forum pengajian. Pertama, membiasakan diri untuk berhenti sejenak sebelum membagikan sesuatu, memeriksa dulu sumbernya, kapan kejadiannya, dan siapa yang menyampaikannya, sebelum ikut menyebarkannya lebih jauh. Kedua, menahan diri dari sikap gampang percaya hanya karena sesuatu sudah viral, karena viral tidak pernah sama dengan valid, dan sejarah membuktikan berkali-kali bahwa narasi yang paling ramai dibagikan justru sering kali yang paling menyesatkan. Ketiga, menjaga lisan dan jari kita dari ikut menyulut kegaduhan, karena dalam banyak riwayat, Rasulullah justru menempatkan penjagaan lisan sebagai salah satu syarat keselamatan seorang mukmin di akhir zaman.

Yang tidak kalah penting, kita juga perlu jujur mengakui bahwa hak menyampaikan pendapat secara damai itu berbeda jauh dari penyebaran fitnah dan provokasi. Warga yang turun ke jalan menuntut keadilan secara konstitusional bukanlah bagian dari fitnah yang dimaksud, justru itu adalah bentuk tanggung jawab sosial yang dianjurkan. Fitnah yang sesungguhnya berbahaya adalah manipulasi informasi yang sengaja dirancang untuk mengaburkan mana suara rakyat yang tulus dan mana yang direkayasa demi kepentingan tertentu.

Pada akhirnya, hidup di zaman penuh fitnah menuntut kita untuk memiliki semacam jangkar batin yang kokoh, sesuatu yang tidak goyah hanya karena arus informasi berubah setiap jam. Jangkar itu adalah kejernihan hati untuk selalu bertanya sebelum percaya, dan keteguhan iman untuk tidak ikut arus hanya karena semua orang di linimasa sedang membicarakannya. Zaman boleh berubah, teknologi boleh semakin canggih menyamarkan kebenaran, tapi prinsip untuk berhati-hati, memeriksa, dan menahan diri, itu adalah warisan yang sudah diajarkan empat belas abad lalu, dan mungkin justru paling relevan untuk dihidupkan kembali hari ini.

More Posts

MENUKAR HAFALAN DENGAN MIRAS

Menghina kalam Ilahi! telah diketahui bersama,jagad maya di gemparkan dengan adanya cuplikan video yang memperlihatkan adanya tantangan untuk melantunkan hafalan Al – Qur’an yang berhadiah

KECAP NOMOR SATU

Oleh: Laskar Badar Muhammad Ada banyak iklan kecap yang biasa kita lihat setiap hari dengan bermacam-macam merek. Kendati merek kecap yang diiklankan itu berbeda-beda, namun

Kirim Pesan