Pentingnya memilih prioritas dalam perspektif fadhu ‘ain
Seiring berjalannya waktu, manusia beranjak dewasa dan menemukan hal baru dalam kehidupannya. Mereka menikmati waktu dewasanya dengan menyibukkan dirinya dengan sesuatu hal yang membuatnya berkembang dan bertumbuh. Hingga timbul keinginan untuk banyak mengambil peran diusia mudanya, pada akhirnya manusia disibukkan dengan hal hal kecil sampai lupa apa yang menjadi prioritas dalam hidupnya, dan disitulah awal cerita ini dimulai.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat ini, apalagi diusia dewasa semakin banyak tanggung jawab dan amanah yang didapatkan. Karena sebagian manusia berprinsip bahwa hidupku harus bermanfaat untuk banyak orang. Mereka ingin sekali mendapatkan kepercayaan oleh banyak orang bahwa ia mampu mengerjakan semua, hingga suatu masa kepercayaan itu didapatkan dari banyak orang dan pada akhirnya ia kesulitan dan kewalahan untuk memilih apa yang harus ia utamakan.
Tapi tidak mengapa, artinya manusia memiliki jiwa semangat dan tekad yang tinggi untuk untuk mencapai apa yang ia inginkan. Namun perlu diketahui, bahwa penting sekali bagi kita untuk memilih prioritas dalam aktivitas berkehidupan, dalam Islam ada ibadah atau pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dan harus dikerjakan oleh diri sendiri serta tidak boleh diwakilkan, istilah tersebut dinamakan Fardhu ‘ain. Fardhu ‘Ain adalah tolak ukur manusia ketika melangkah, mendahulukan yang wajib dalam bekerja adalah prinsip dan fondasi hidup seorang Muslim agar terarah dan bernilai Ibadah.
Fardhu A’in sebagai prioritas dalam Islam
Sepenting itukah Fardu ‘ain menjadi barometer dalam bekerja ?, Fardu’Ain menuntun etika dalam bekerja, prinsip dasar seperti jujur, adil, tidak menipu, tidak merugikan orang lain, dan menepati janji adalah penentu adalah kewajiban masing-masing individu. Artinya, profesionalisme dalam Islam adalah kepatuhan terhadap kewajiban agama selain ketrampilan. Meskipun terlihat menuntungkan secara materi, pekerjaan yang melanggar Fardhu ‘Ain masih merupakan masalah moral dan spiritual.
Dampak meninggalkan Fardhu ‘Ain bukan lagi sanksi sosial, bukan dihakimi oleh orang sekitar. Namun hilangnya keberkahan dalam, kerusakan spiritual, dan berdosa. Maka perlu kita kembali melihat kebelakang, dan ingat tujuan awal. Untuk apa kita mengambil banyak peran ? apakah dirinya merasa penting dan dibutuhkan, takut kehilangan kesempatan, atau komitmen menempatkan kewajiban diatas keinginan ? Semoga Allah selalu menjaga niat kita dalam menjalankan kewajiban saat bekerja.
Mengapa harus mengerjakan yang wajib dulu ?
Perlu dikehui bersama, bahwa farhdu ‘ain adalah kewajiban adalah kewajiban setiap individu yang harus dikerjakan. Ini tidak bisa diwakilkan, setiap tanggung jawab yang diterima menjadi beban untuk dirinya sendiri dan kelak akan dimintai pertanggung jawaban.
Allah ﷻberfirman :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَخُونُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلرَّسُولَ وَتَخُونُوٓا۟ أَمَٰنَٰتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang orang yang beriman, janganlah kalian menghianati Allah dan Rasul, dan jangan pula menghianati amanah amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui” (Q.S Al Anfal : 27)
Ayat tersebut tegas menjelaskan bahwa pengkhianatan kepada amanah adalah dosa yang disadari. Ketika seseorang tahu bahwa ia memiliki tanggung jawab, namu sengaja memalaikannya untuk mengerjakan kesibukan yang lain, maka ia telah masuk dalam wilayah pelanggaran moral dan spiritual.
Teman teman, kesepakatan di awal orgaisasi atau pekerjaan apapun itu baik lisan maupun tertulis adalah sebuah perjanjian. Dalam Islam, janji bukanlah perkara yang ringa. Karena Allah ﷻberfirman :
وَأَوْفُوا۟ بِٱلْعَهْدِ ۖ إِنَّ ٱلْعَهْدَ كَانَ مَسْـُٔولًا
“Dan penuhilah janji, karena sesungguhnya janji itu akan dimintai pertanggung jawaban” (Q.S Al Isra : 34)
Ketika kita sudah menyatakan bersedia menjadikan pekerjaan atau organisasi menjadi prioritas awal, maka kerjakanlah sesuai dengan amanah dan komitmen awal. Luruskan kembali niatnya, untuk apa mengambil peran dalam pekerjaan tersebut.
Tunaikan pekerjaan yang lebih dulu memikat
Dalam perspektif fardhu ‘ain, amanah yang diterima diawal adalah prioritas yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Karena ia memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding tanggung jawab yang datang setelahnya.
Mengambil peran pekerjaan atau organisasi lain adalah pilihan. Namun menunaikan amanah awal adalah kewajiban, meskipun tidak ada dalil spesifik yang menerangkan hal demikian, ini adalah sebuah kesadaran individu terhaap hal yang ingin dikerjakan.
Jadilah seorang yang bertanggung jawab dengan amanah yang diemban, karena Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanguggung jawaban atas apa yang dipimpinya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Semakin banyak peran yang diambil, maka semakin babyak tanggung jawab yang akan diembannya. Hal ini tidak menjadi alasan untuk mengabaikan yang sudah ada.
Merasa bisa mengerjakan semuanya
Fenomena FOMO, membuat banyak anak muda mengabil peran bukan karena kesiapan, tapi karena takut tertinggal dan kehilangan kesempatan yang ada. Akhirnya yang terjadi adalah pembalikan prioritas, yang baru didahulukan yang lama ditinggalkan. Dalam Islam, ini adalah kesalahan serius. Karena kewajiban tidak gugur hanya karena munculnya kesibukan yang baru. Pengingat untuk kita semuanya bahwa hal ini sudah diingatkan oleh Rasulullah ﷺ dalam sabda beliau :
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثَ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berkata ia berbohong, dan apabila berjanji, ia tidak menepati, dan apabila dipercaya, ia berkhianat’.” (HR. Bukhari dan Muslim). Teman teman, hadis tersebut bukan untuk menghakimi, tetapi sebagai peringatan bahwa amanah itu tidak bisa diremehkan.
Pentingnya membagi waktu
Anak muda di usia 20 tahunan adalah waktu paling prima untuk mengerjakan semua hal yang membuatnya terus bertumbuh dan berkembang. Tidak ada batasan untuk terus mencari hal baru dalam setuap part kehidupan anak muda. Islam tidak melarang anak muda itu aktif, namun jangan sampai kita kehilangan prioritas kita. Serta jangan sampai kita kehabisan banyak waktu untuk berkonstribusi pada setiap aman yang diambil.
Solusinya jelas teman teman, menurutku:
- Bereskan semua amanah dan atur waktu untuk mengerjakannya, sebelum mengambil peran baru.
- Jika tidak mampu, kataka saja dan jujur serta mundur dengan tanggung jawab.
- Menata kembali niat kita.
Jadilah anak muda yang bermanfaat untk banyak orang, bukan menjadi beban untuk sebagian orang. Anak muda saat ini adalah calon pemimpin bangsa dimasa yang akan datang. Pelajarilah semua ilmu pengetahuan untuk membuatmu berkembang dan berilmu, ambilah peran semampumu dan jadilah orang yang bertanggung jawab. Karena Islam menilai seseorang bukan dari seberapa peran yang dia ambil, tetapi dari seberapa jujur saat ia menunaikan amanah.
Karena pada akhirnya, dihadapan Allah kelak yang ditanya bukan berapa banyak peran yang kamu ambil, tetapi amanah mana yang yang telah ditunaikan dan mana yang ditinggalkan.



