Isu kesehatan mental di kalangan generasi muda semakin sering dibicarakan. Renald Kasali, dalam bukunya Generasi Strawberry, menggambarkan generasi hari ini seperti buah stroberi: tampak indah dan menarik, tetapi mudah rapuh ketika menghadapi tekanan hidup. Gambaran ini cukup relevan dengan realitas generasi muda yang hidup di tengah perubahan sosial dan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Kemudahan teknologi melahirkan budaya serba instan. Banyak proses hidup yang seharusnya dijalani secara perlahan kini ingin dicapai secara cepat. Akibatnya, daya tahan mental tidak sempat terbentuk dengan matang. Tidak sedikit anak muda yang mudah pesimis, cepat lelah secara emosional, dan kurang percaya pada kemampuan dirinya sendiri akibat kebiasaan instan tersebut.
Media sosial turut memperparah keadaan dengan menghadirkan gambaran hidup yang tampak sempurna. Kehidupan orang lain terlihat selalu lebih berhasil, lebih bahagia, dan lebih mapan. Situasi ini kerap membuat anak muda minder, kehilangan fokus, dan lebih sibuk menyimak kehidupan orang lain daripada menata arah hidupnya sendiri.
Padahal dalam sejarah, generasi muda selalu memikul tanggung jawab penting dalam melakukan perubahan sosial. Mentalitas yang rapuh dan penuh keraguan tentu akan menjadi hambatan tersendiri dan harus segera dijawab. Dalam konteks inilah Al-Qur’an perlu dibaca kembali sebagai sumber nilai yang memberi arah dan keteguhan batin, termasuk dalam merespons persoalan kesehatan mental.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 3:
الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ
“(Yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, mendirikan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.”
Ayat ini menarik karena ciri pertama orang bertakwa bukanlah ibadah lahiriah, melainkan iman kepada yang gaib. Ini menunjukkan bahwa fondasi sikap hidup manusia bermula dari cara ia memandang sesuatu yang tidak selalu tampak oleh mata.
Dalam Tafsir Ath-Ṭabari, makna al-ghayb mencakup segala sesuatu yang tidak terlihat, seperti surga, neraka, hari kebangkitan, jin, malaikat, dan kehidupan setelah mati termasuk tuhan. Artinya, sesuatu yang disebut gaib adalah sesuatu yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra, tetapi diyakini keberadaannya. Maka, mentalitas, harapan, optimisme, dan potensi diri manusia yang tidak tampak secara fisik dapat pula dipahami sebagai bagian dari sesuatu gaib.
Dalam Tafsir tersebut juga dijelaskan makna iman secara mendalam. Ibnu ‘Abbas memaknai kata yu’minūna tidak hanya sebagai “orang-orang yang percaya”, tetapi juga sebagai “orang orang yang khusyuk”. Makna khusyuk di sini dapat dimaknai sebagai sikap mental orang yang fokus dan bersungguh-sungguh dalam menata hidupnya, tidak mudah kehilangan arah, dan tidak larut dalam kebingungan yang melemahkan semangat hidup.
Az-Zuhri menegaskan bahwa iman adalah amal perbuatan. Artinya, iman bukan sekadar keyakinan dalam hati, tetapi keyakinan yang mendorong seseorang untuk bertindak. Iman yang mencakup kesungguhan dalam menjalani hidup, dan keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi berbagai masalah termasuk masalah mental.
Tafsir At-Tanwir Muhammadiyah memperkuat pemahaman ini dengan menyoroti bentuk kata yu’minūna yang merupakan fi‘il muḍāri dimana dalam ilmu Bahasa Arab ini adalah bentuk kaliamat yang akan datang. Artinya, kalimat yu’minūna adalah orang yang beriman, yakni orang yang percaya akan potensi dirinya di masa depan sehingga dia bersedia berubah, belajar, dan mengembangkan dirinya karena optimis di masa depan yang lebih baik.
Dalam konteks manusia beriman, potensi diri, daya tahan mental, dan kreativitas termasuk hal-hal yang belum tampak secara langsung. Beriman kepada yang gaib, dalam makna ini, berarti percaya bahwa diri manusia memiliki kemungkinan untuk berkembang dan ini lah yang dimaksut sebagai karakter manusia yang beriman.
Pendekatan tafsir progresif dan kontekstual menegaskan bahwa “iman kepada yang gaib” bukanlah sikap peseimis dan pasrah. Beriman kepada yang gaib adalah keyakinan bahwa perubahan selalu mungkin terjadi. Ketika keyakinan ini hilang, manusia akan mudah jatuh pada keputusasaan dan kehilangan makna hidup akibat lemahnya mental.
Al-Qur’an memandang pesimisme bukan sebagai sikap yang patut dimiliki orang beriman bahkan mungkin termasuk sesuatu yang diharamkan. Maka, anak muda sangatlah amat dilarang untuk berputus asa kalau dia termasuk orang yang beriman. Anak muda perlu menjadikan Al-Qur’an sebagai landasan untuk membentuk mental yang sehat dan sikap optimis.
Dalam konteks generasi muda yang kerap bergumul dengan kecemasan dan ketidakpastian, QS. Al-Baqarah ayat 3 menghadirkan pesan yang menenangkan sekaligus menguatkan. Beriman kepada yang gaib berarti bersikap optimis dan percaya dengan potensi dirinya yang lebih baik dimasa depan, sehingga dia fokus pada pengembangan kreativitasnya dan tidak mudah menyerah pada keadaan yang belum sesuai harapan.
Ayat ini tidak hanya berbicara tentang jin, malaikat, surga dan neraka, tetapi juga tentang kepercayaan terhadap masa depan manusia. Di tengah krisis mental yang melanda banyak anak muda, iman kepada yang gaib menjadi sumber optimisme: keyakinan bahwa di balik yang belum terlihat, selalu ada potensi untuk tumbuh, bertahan, dan menjalani hidup dengan lebih bermakna.



