Kebiasaan Overthinking yang Menguras Iman

Belakangan ini, ada satu hal yang semakin lama semakin terlihat mendarah daging di kehidupan kita: overthinking. Overthinking ini bukan lagi soal ‘kebanyakan mikir’ atau ‘banyak pikiran’ tapi sudah menjadi kebiasaan yang kalo boleh jujur, sangat melelahkan lahir batin. Di zaman ini, kita hidup dengan kepala yang nggak pernah berhenti menafsirkan ulang hal yang sama berkali-kali. Kita bukan kurang cerdas, tapi kita terlalu peka, terlalu ingin memastikan segalanya berjalan benar, terlalu ingin menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Ironisnya, karena terlalu ingin ‘menjadi benar’, seringkali kita kehilangan ketenangan, kehilangan fokus, bahkan sampai kehilangan iman, disadari atau tidak.

Di media sosial, kita sering disuguhi kalimat-kalimat, caption-caption yang saling berlomba untuk terlihat paling dalam, paling hancur, paling rumit, paling dekat dengan kehidupan. Seolah semakin dalam kalimatnya, semakin hidup. Di tengah kultur ini, orang-orang mulai menganggap overthinking sebagai bagian dari kebiasaan; minum kopi sambil merenung panjang, tatapan kosong ke jendela, atau langit-langit kamar sebelum tidur. Kepala penuh suara sudah menjadi santapan sehari-hari, hati yang seringkali sesak tanpa sebab. Fisik yang mudah lelah padahal nggak ngapa-ngapain, dan itu semua, jelas melelahkan. Bahkan jika dibiarkan, ia bisa merenggut hubungan seseorang dengan Allah.

Masalah utamanya, kebiasaan overthinking ini makin subur karena kita hidup di zaman yang serba cepat dengan banyak sekali tuntutan. Tak jarang, kesalahan kecil dibesarkan. Hal-hal kecil bisa jadi viral. Orang-orang bisa bebas berkomentar meski tidak pernah saling mengenal. Validasi menjadi kebutuhan, dan diam-diam seringkali kita lebih percaya pada rasa takut daripada pertolongan Allah.

Padahal Rasulullah ﷺ sudah mengajarkan doa yang sederhana:

اللهم اني أعوذ بك من الهم و الحزن

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan sedih”

Kalau saja kegelisahan dan ketakutan berlebihan bukan sesuatu yang perlu diwaspadai, tentu doa ini tidak akan diajarkan.

Lalu, kenapa seseorang bisa overthinking?

Bukan karena kurang iman, tapi karena kurang tenang.

Sedangkan ketenangan itu sendiri seringkali dirusak oleh hal-hal sederhana yang kita pupuk sendiri tanpa kita sadari dengan terlalu sering membandingkan diri, terlalu takut mengecewakan orang lain, terlalu takut melakukan kesalahan, terlalu keras terhadap diri sendiri, bahkan terlalu banyak menerima beban yang bukan tanggung jawabnya.

Hal-hal kecil itu seringkali menumpuk dan menggunung. Yang awalnya hanya ‘kepikiran sedikit’, lama-lama menjadi kebiasaan, dengan menebak-nebak pikiran orang lain, dengan berulang kali mengecek notifikasi, merasa bersalah bahkan saat tidak melakukan kesalahan sama sekali, dan akhirnya hidup menjadi sangat tidak tenang dan penuh ketakutan. Padahal Allah sudah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” (QS.Al Baqarah: 286)

Tahukah kalian?

Kebiasaan overthinking ini ada karena kita seringkali memindahkan pusat kendali hidup dari ‘Allah’ ke ‘manusia’.

Disadari atau tidak, overthinking itu paling sering muncul ketika kita terlalu sibuk memikirkan apa yang dipikirkan orang lain. Kita takut dijudge, takut tidak disukai, takut dianggap gagal, takut dianggap aneh, takut kalau nggak bisa memenuhi standar yang entah patokannya apa.

Akhirnya, kita hidup dengan “mode bertahan”, bukan “mode bertawakal”. Kita sibuk dengan semua pikiran-pikiran itu sampai lupa bahwa kita perlu mengatur hubungan dengan Allah. Itu yang seharusnya kita pikirkan.

Di titik ini, overthinking mulai menguras iman. Kita mendirikan shalat, tapi pikiran kita nggak ikut sujud, entah kemana. Lisan kita sibuk menggumam dzikir, tapi hati kita mencemaskan masa depan. Tangan kita menengadah berdoa, tapi keyakinan kita goyah oleh kecemasan yang kita buat sendiri. Kita mendambakan hati yang tenang, hidup yang tentram, tapi sibuk mencari ketenangan di tempat yang salah.

Hidup itu sederhana kok, selama kita tahu siapa yang memegang kendali. Kadang kita lupa kalau Allah yang mengatur semuanya. Allah yang menentukan hasilnya, bukan kekhawatiran kita. Yuk kita coba sama-sama elus dada, kita ucap istighfar, lalu baca ‘hasbunallah wa ni’mal wakil’. Kita resapi artinya, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami’.

Gimana? Udah lebih tenang?

Nah, cara kita keluar dari kebiasaan ini bukan dengan berhenti berpikir, tapi dengan mulai belajar berserah. Belajar menyeimbangkan usaha secukupnya, tawakkal sebanyak-banyaknya. Belajar untuk tidak menuntut diri sendiri terlalu keras. Belajar untuk tidak berprasangka pada hal-hal yang belum pasti, yang hanya Allah yang tahu. Belajar untuk memberi ruang untuk kesalahan dan kegagalan.

Kenapa? Karena overthinking itu muncul dari perasaan ingin mengendalikan segalanya. Dan perasaan itu hanya bisa hilang ketika benar-benar yakin kepada Sang Maha Pengatur.

Sampai kapan mau khawatir terhadap hal-hal yang bukan kendali kita?

Sampai kapan membiarkan pikiran-pikiran itu mempengaruhi produktivitas kita?

Sampai kapan rela membiarkan iman tergerus sedikit demi sedikit?

Bukankah dengan energi yang kita habiskan untuk overthinking, seharusnya bisa kita pakai untuk ibadah?

Bukankah dengan waktu yang hilang karena overthinking, seharusnya bisa kita gunakan untuk memperbaiki diri?

Bukankah, seharusnya tidak ada rasa takut yang lebih besar selain takut kepada Allah?

Bukankah, daripada bertanya ‘gimana kalo aku gagal?’, lebih baik bertanya ‘apakah aku sudah berusaha dan bertawakal dengan benar?’

Pada kenyataannya, bukan hanya overthinking yang membuat hidup kita sulit, tapi cara kita membiarkan overthinking itu menggerus iman, itulah yang semakin memperumit.

Jadi, overthinking itu ciri manusia yang lupa bersandar, bahkan lupa kemana harus bersandar. Ia sangat dekat dengan kehidupan kita. Kita semua bisa mengalaminya. Tapi selama kita mau menyadari dan mengembalikan arah hidup kepada Allah, overthinking tidak lagi cukup bisa menguras iman kita yang sedang kita usahakan itu. Kalau saja nanti suatu hari overthinking itu datang lagi, cukup katakan, “Allah yang urus. Bukan aku.”

More Posts

SEBERAPA SIAP KITA MEWARISI AL-QURAN?

Sudah masyhur diketahui bahwa Ramadan adalah bulannya Al-Quran. Spirit ibadah di bulan Ramadan memang tak akan bisa jauh dari Al-Quran. Ramadan sendiri merupakan bulan di

Kirim Pesan